no image

Connie Rahakundini Bakrie; Mencintai Indonesia dan TNI

  • admin
  • April 20, 2008

Masyarakat, awalnya hanya mengenal Connie yang seorang dosen di ‘Kampus Kuning’ Universitas Indonesia, juga seorang istri dari Letjend (purn) Djaja Suparman. Namun sekarang masyarakat lebih mengenal Connie sebagai seorang pengamat militer, yang istimewa, ia bukan saja menjadi satu-satunya perempuan di Indonseia yang menjadi seorang pengamat militer, tapi juga karena fokus studinya pada Defense Economic, jarang dilirik orang.


Ditemui di Club Bimasena, Hotel Darmawangsa Jakarta Rabu (16/04), perempuan cantik kelahiran Bandung, 6 November 1964 ini bercerita banyak mengenai sepak terjangnya di dunia militer. Jauh sebelum dikenal sebagai pengamat militer, Connie telah berkutat di dunia desain. Karya alumnus Billy Blue School of Graphic Design, Sydney, Australia itu pernah memperoleh penghargaan internasional. Ia juga sempat malang melintang sebagai pengusaha.


Masa kecil ibu dari dua orang buah hati ini dihabiskan di Kota Kembang, Bandung, ia mengaku sejak kecil sudah sering ditinggalkan ibu dan ayahnya. Maklumlah, ibu dan ayahnya adalah orang-orang yang super sibuk sehingga waktu mereka banyak dihabiskan di luar rumah. Sehingga ia harus ‘mengambil alih’ masalah-masalah di rumah seperti mengatur rumah, mengatur belanja bulanan dan lainnya, padahal saat itu, Connie masih duduk di bangku kelas 6 SD. “Mungkin hal itulah yang mendidik saya untuk belajar mandiri sejak kecil,” ujarnya mengenang.


Menurut pemilik hobi baca dan memotret ini, tekadnya menjadi pengamat militer tidak ia khususkan. ”Kalau akhirnya karena buku Pertahanan Negara & Postur TNI Ideal, kemudian saya diberi predikat demikian ya saya syukuri saja,” ujar Connie singkat. Diakuinya, rasa cintanya terhadap Tanah Air dan TNI-lah yang memotivasinya untuk terus berkarya guna memberi masukan dengan memberikan berbagai pemikiran agar Indonesia dan TNI bisa menjadi kuat dan disegani.


“Karena menurut saya seindah-indahnya rumah orang, lebih indah rumah kita sendiri dan itulah Indonesia di mata saya. Begitu berartinya rumah dan segenap isi dan halamannya, maka saya juga tidak segan membayar anggota pengaman yang didukung oleh sistem dan aturan yang berlaku dimulai dari gerbang depan sampai kegiatan keseharian di dalamnya. Nah, terkait dengan TNI, demikianlah saya juga melihatnya sebagai garda terdepan penjaga bangsa yang organisasi dan individunya tidak akan pernah berubah baik komitmen dan tujuannya dalam menjaga ’rumah’nya,” papar Connie


Connie mencontohkan, bagaimana organisasi partai politik yang tidak sesolid TNI. “Lihat saja partai politik yang mudah berubah haluannya, bahkan bisa bubar dalam sekejap hanya karena suhu politik berubah, bandingkan dengan TNI yang tak pernah bisa dipengaruhi oleh suhu politik yang berubah-ubah, mereka (TNI-red) tetap loyal menjaga keutuhan bangsa dengan segenap kemampuannya.”


Pilihan Connie menjadi seorang pengamat militer memang tak sia-sia, selain dari sang suami, kedua anaknyapun mendukung penuh apa yang menjadi pilihannya tersebut. “Intinya, kemanapun saya ingin mengekplorasi sesuatu dari diri saya, anak-anak dan suami saya mendukung saya, tetapi saya diminta suami selalu mengusahakan tiap hari Sabtu dan Minggu sebagai hari keluarga dimana kita harus dapat berkumpul dan memenuhi acara wajib makan bersama di luar rumah,” tutur perempuan yang kini tengah sibuk menyelesaikan studi S3-nya di Universitas Indonesia.


Memotret adalah salah satu hobinya, maka tak heran jika waktu senggangnya ia habiskan untuk menyalurkan hobinya tersebut. “Kalau untuk aku pribadi waktu luangku aku isi dengan hobbyku membaca dan memotret! Bukan memotret yang canggih-canggih lho, hanya dengan kamera digital biasa tapi aku suka sekali merekam banyak hal dalam keseharianku. Makanya kemanapun aku pergi aku pasti bawa kamera. Tapi aku paling suka memotret jendela…Jendela itu artinya dalam buat aku,” tutur Connie.


Saat diminta pendapatnya tentang kriteria cantik, dengan gamblang Connie menjelaskan, bahwa untuk terlihat cantik, perempuan harus menjadi diri sendiri. “Jadilah diri sendiri. Jangan membiarkan diri kita tenggelam pada nama besar orang lain, baik suami ataupun orang tua atau siapapun. Kalau kita menjadi diri kita sendiri, kita bisa tahu siapa kita, mau kemana dan apa tujuan serta target pencapaian dalam hidup kita yang ingin kita jangkau…Kalau itu sudah bisa dijalankan, pasti itu terpancar dari diri kita, inner beauty kitapun keluar dengan sendirinya,” imbuh Connie panjang lebar.


Dalam kesempatan ini, Connie juga memberikan pandangannya tentang perkembangan perempuan Indonesia saat ini. Menurut Connie banyak hal berubah dengan perempuan, terutama soal nilai-nilai indah dan luhur yang dimiliki oleh perempuan tempo dulu. “Misalnya mereka lebih mampu menempatkan diri mereka dalam beberapa nilai yang saya pribadi tidak saya miliki pada hari ini, misalnya, kesabaran dan ketenangan yang begitu terpancar dari wajah mereka yang sungguh mendamaikan,” beber pengagum Laksamana Malahayati ini.


“Coba perhatikan wajah Ibu Kartini, Ibu Dewi Sartika dan Laksamana Malahayati misalnya, tetap ada sikap, ada ketegaran dan ada ketegasan di situ, tetapi semuanya terpancar dalam kedamaian. Wanita modern hari ini, termasuk saya, karena demikian terlarut dalam tuntutan modernisasi dan peradaban, akhirnya terlalu sibuk mengejar banyak hal yang mungkin memaksa kita untuk secara tidak langsung kemudian selalu bergegas dan membuat kita merasa terus harus berpacu dengan waktu. Saya kira, itu membuat nilai-nilai indah dari ‘damai’ tadi terkikis dengan sendirinya…” pungkas Connie. (rn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>