no image

Kisah si Bapak Tua yang Mencuri Kehidupan Anak-Anaknya

  • admin
  • September 17, 2012

Hari sudah sore dan  saat itu saya berada di Puri Mal Jakarta Barat  sambil menyeruput kopi di Starbuck.  Rasa coffeelatte demikian kental di tenggorokan menambah rileksnya suasana sore yang sudah mendung. Saya memang mempunyai kebiasaan untuk bekerja di tempat keramaian, apalagi kalau sudah bosan kerja di rumah. 

Di tempat ramai inilah pikiran bisa menjadi lebih produktif karena lalu lalang orang yang menyebabkan suasana berganti setiap saat sehingga terasa tidak membosankan.   Disitulah saya biasanya mendapat pencerahan ide-ide  terobosan bisnis yang saya geluti…

Waktu menunjukkan jam 6 sore dan saya harus bergegas pulang.  Hujan mulai turun, menambah dinginnya sore hari itu. Untuk tujuan pulang ke rumah, saya keluar pintu Barat Puri Mal dan melewati jalan dimuka supermarket Carrefour.  Jalan ini kemudian berbelok ke kiri, dan saya harus mengambil U turn. 

Tepat di tikungan setelah U turn,  saya melihat pemandangan yang mengenaskan hati.  Saya melihat seorang bapak dekat dengan gerobak dorongnya, dengan kedua anaknya, lelaki dan perempuan. Bapak itu memakai topi dan baju yang telah lusuh, dengan celana pendek seadanya.

Wajah si bapak kelihatan sangat datar dan tanpa ekspresi, menambah ilustrasi muka penuh stres dan kejamnya hidup di Ibukota. Sang bapak kelihatan melamun, mata tertuju ke depan tanpa menghiraukan lalu lintas yang cukup ramai. Ketika saya melihat kedua anaknya, mereka mempunyai ekspresi yang sangat berbeda dengan sang bapak.

Mereka tertawa dan bercanda satu sama lain.  Seolah mereka tidak tahu betapa getirnya hidup orangtua mereka dalam menopang hidup keluarga sehari hari. Pakaian keduanya tidak berbeda dengan si Bapak, sangat lusuh dan mungkin saja sudah dipakai beberapa hari tanpa dicuci.

Sungguh suatu pemandangan yang menyedihkan dibalik pembangunan Jakarta yang spektakuler, tepatnya di  kawasan Jakarta Barat. Bagaimana tidak,  ada dua apartment mewah di dekat Puri Mal.  Yaitu Saint Morris dari Lippo Group dan Windsor dari Pondok Indah Group.

Terus terang, saya tidak mempunyai kebiasaan memberi orang minta-minta di  pinggir jalan apapun itu alasannya, karena saya mengetahui biasanya mereka terorganisir oleh oknum yang ujung-ujungnya adalah mengumpulkan uang dengan belas kasihan orang. 

Karena alasan itulah, saya merasa bahwa bukanlah cara yang tepat untuk memberi sedekah kepada orang minta-minta di jalan. Saya memilih bersedekah dengan menyalurkannya ke panti.

Meski si bapak dan kedua anaknya tidak dalam sikap minta uang,  tetapi ada rasa iba yang mengunjungi saya.  Rasa iba bercampur kasihan melihat keluarga yang mungkin belum mendapat rezeki pada hari itu. 

Situasi hujan rintik-rintik menambah terenyuhnya hati ini dan saya langsung memakirkan mobil di pinggir jalan.  Tanpa sadar saya merogoh dompet dan mengeluarkan uang Rp 50 ribu dan saya berikan kepada si bapak.

Ketika saya menyerahkan uang Rp 50 ribu, si bapak menerimanya tanpa ekspresi, dan tanpa terimakasih.  Tapi aneh, penerimaan uang tanpa kata terima kasih ini tidak membuat saya marah malah merasa iba, karena dalam benak saya berpikir ini adalah salah satu produk stres di ibukota Jakarta. 

Stres yang membuat orang tidak mempunyai perasaan dan antipati pada sekelilingnya. Begitu pulang ke rumah, saya bercerita kepada anak-anak, betapa mujurnya hidup kita apabila dibandingkan oleh si bapak dan kedua anaknya di tikungan jalan tadi.  Kita masih diberkahi hidup yang berkecupan pada papan, sandang dan pangan.

Selang 2 minggu kemudian, saya pulang dari Puri Mal jam 9 malam.  Saya pulang melewati jalur yang sama dari pintu Barat, dan kemudian setelah melewati Carrefour belok kiri dan U turn.  Pada malam yang kelam tersebut saya melihat kembali sosok si bapak dan kedua anaknya beserta gerobak dorongnya. Lha, ngapain ya si bapak ini? Mengapa dia tidak pulang saja membawa anak-anaknya, padahal dia tidak berbuat apapun, hanya bengong duduk saja.

Saya merasa sangat kasihan melihat dua anak ini, karena hari sudah larut malam yang harusnya mereka bisa tidur dan istirahat di rumah, tetapi masih harus menemani si bapak duduk di pinggir jalan. Karena rasa penasaran yang tinggi, saya meminggirkan mobil  sebelum U turn dan mengamati mereka dari kejauhan.

Tidak lama, ada sebuah mobil cukup mewah berhenti menghampiri mereka. Pintu terbuka dan ada orang yang memberi mereka bungkusan. Saya kurang tahu apa isi bungkusan tersebut, tetapi seperti makanan. Belum selang 10 menit, ada sebuah mobil lagi berhenti. Kali ini saya melihat pengendara memberikan uang kepada mereka.

Segera saya tersadar, bahwa si bapak duduk disitu memang mempunyai motivasi  untuk mendapatkan uang dengan belas kasihan para pengendara yang lewat disitu.  Caranya sangat cerdik, yaitu menggunakan kedua anaknya yang kelihatan sangat innocent tersebut.  Fenomena ini jelas memberikan ilustrasi seorang bapak yang tega memperkejakan anak-anaknya untuk minta-minta, meskipun secara tidak langsung.

Dia sudah mencuri waktu anak-anaknya untuk tidak beristirahat. Dengan tega mengajak mereka untuk berkutat dengan dinginnya malam dan kadang di bawah siraman hujan. Apabila si bapak belum pulang sampai dengan jam 10-11 malam tiap harinya, mana mungkin anak-anak tersebut dapat bangun pagi dan sekolah. Kalau sekolah siang pun, tentu mereka sudah sangat letih untuk belajar. Sungguh suatu ilustrasi dari rasa egois dan kemalasan si bapak.

Saya tidak tahu, apakah saya harus iba dan kasihan, atau jengkel melihat hal ini. Yang pasti, sebagai orangtua, kita mempunyai kewajiban untuk menafkahi anak-anak kita dan memberikan yang terbaik. Bukannya menggunakan mereka sebagai objek minta-minta.

Dengan getir saya menelan ludah dan menyadari bahwa karena uang, orang bisa melakukan hal-hal yang immoral. Uang bisa kita gunakan untuk membantu sesama, dan pada saat yang bersamaan bisa membuat suatu pola yang destruktif. Sebagai contoh adalah si bapak yang secara tidak langsung telah mempekerjakan anak-anaknya untuk mendapatkan uang.

Bagaimana menurut Anda? Silahkan memberi komentar di bawah ini….

Note: Sampai tulisan ini ditayangkan, si bapak dan kedua anaknya masih berada di tikungan samping Carrefour tiap hari dari sore sampai malam beserta gerobaknya. Menginginkan rezeki dari rasa iba dan kasihan orang yang lewat disitu…

 

 

By: Kurnia Kwik
Entrepreneur, Educator & Investor

Comments

comments