no image

Melindungi Anak dan Perempuan dengan Undang-Undang

  • admin
  • November 5, 2012

Pastinya Anda sering mendengar kasus yang melibatkan anak dan perempuan di berbagai media. Berita-berita tersebut seakan menggambarkan perlindungan pemerintah terhadap perempuan dan anak sangat lemah.

Padahal pemerintah sendiri sudah memberikan segala kebijakan dan berbagai sosialisasi untuk mencegah adanya kasus yang melibatkan anak dan perempuan namun banyak kesadaran masyarakat dan tingkat ekonomi rendah yang menjadi faktor terhadap kasus-kasus tersebut.

Menjabat sebagai Asisten Deputi Pemenuhan Hak Sipil Anak di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, tentunya menjadi sebuah tanggung jawab bagi profil kita kali ini, Rudy Purboyo, di dalam mensosialisasikan dan mendorong kepada masyarakat untuk mencegah agar kasus yang menimpa anak dan perempuan tidak terus terjadi.

Pria lulusan hukum Universitas Diponegoro ini menceritakan banyak sekali kasus-kasus yang melibatkan anak usia di bawah umur diantaranya mempekerjakan anak di bawah umur, perdagangan anak, hingga anak-anak yang tidak memiliki akta kelahiran.

Dijelaskan jumlah anak Indonesia saat ini yang mencapai 83 juta jiwa dengan perhitungan jumlah penduduk Indonesia yang kini mencapai 237 juta jiwa masih banyak sekali yang tidak memiliki akta kelahiran.

“Anak yang memiliki akta kelahiran itu sekarang sekitar 64% sedangkan yang belum memiliki akta 37%, hal ini kan membuktikan bahwa banyak anak Indonesia belum memiliki akta,” ujarnya.

Akta kelahiran merupakan sebuah hak yang paling utama ketika anak tersebut lahir, karena dengan memiliki akta anak akan diketahui silsilah keluarga, hak waris dan yang paling utama adalah pengakuan sebagai Warga Negara Indonesia.

 “Pendidikan disini maksudnya bukan berarti anak yang tidak memiliki akta itu tidak berhak mendapatkan sebuah akta namun sedikit mempersulit, karena itu semua sudah ditulis dalam sebuah undang-undang yang menyebutkan setiap anak yang ingin bersekolah ataupun bekerja harus memiliki akta,” tandas Rudy yang memulai karirnya di Kementerian Sekertariat Negara.

Rudy mengatakan berdasarkan pernjanjian ILO seorang anak boleh bekerja  bila sudah mencapai usia di atas 15 tahun, dan itu pun harus berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditentukan.

Pada kriteria- kriteria yang telah ditetapkan tak dipungkiri banyak sekali anak yang bekerja dibawah usia 15 tahun. Seperti halnya kasus pengiriman tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri, hasil investigasi yang dilakukan pemerintah Indonesia ternyata pekerjanya itu masih dibawah umur 15 tahun.

Mereka bisa pergi keluar negeri dengan cara memalsukan dokumen-dokumen dan identitas diri. Melalui penyalur-penyalur tenaga kerja illegal, anak-anak tersebut diiming-imingkan dengan bayar yang besar bila mereka bersedia untuk bekerja di luar negeri.

“Mereka semua tidak memiliki akta, jadi untuk bisa bekerja di luar negeri mereka pun memalsukan semua dokumen-dokumen, mulai dari nama, usia, dan sebagainya. Hal ini membuat kesulitan pemerintah untuk mendata bila ada kejadian kematian atau masalah pada tenaga kerja Indonesi karena semua sudah dipalsukan,” ujar Rudy.

Menyinggung tentang nikah siri yang akhir-akhir ini sangat popular, Rudy mengatakan bahwa hal tersebut sangat merugikan tidak hanya untuk ibu namun juga anak.  Walaupun sah dalam agama, namun pernikahan tersebut tidak tercatat dalam catatan sipil.

“Pemerintah seharusnya memberikan akta kepada anak, tanpa harus memandang status orang tuanya, karena kita kan sudah menanda tangani Konfrensi Hak Anak yang salah satu pasalnya menyebutkan akta kelahiran adalah hak dasar untuk anak itu sendiri,”katanya.

Untuk mensosialisasikan kebijakan-kebijakan yang sudah dituangkan dalam perundang-undangan anak, Rudy mengharapkan agar seluruh jajaran pemerintah ikut dalam membantu kebijakan yang terkait masalah perempuan dan anak.

Pria kelahiran Semarang  11 November 1955 mencontohkan salah satu kasus yang melibatkan anak sebagai pekerja yaitu di daerah Sumatera masih banyak anak yang setiap hari bekerja menarik jala di laut.

“Jadi anak tersebut seharian itu kerjaanya di laut, menarik jala yang sudah terpasang. Itu kan membuat anak tersebut tidak memiliki waktu untuk mengenyam pendidikan. Karena itu dengan adanya kebijakan dan nota kesepahaman diharapkan anak-anak Indonesia dapat merasakan pendidikan, “ujarnya.

Tidak hanya berbagai kasus yang melibatkan anak, Rudy pun juga menjelaskan tentang perempuan era kini. Dilihat dari Perekembangannya perempuan masa kini sangat berbeda dengan perempuan jaman dulu, terutama dalam hal pendidikannya.

“Kalau orang tua jaman dulu bilang ke anak perempuannya, Wes toh enduk, koe ora usah sekolah sing tinggi sesok koe melu bojomu wae (sudahlah nak, kamu tidak usah sekolah tinggi, besok ikut sama suami mu saja),”katanya dengan menggunakan bahasa jawa.

Kini kesetaraan dalam mengenyam pendidikan sudah tidak ada perbedaan antara perempuan dan pria, justru sekarang perempuan diberikan kesempatan besar dalam sebuah pembangunan terutama di  Indonesia.

“ Dari perbandingan jumlah perempuan dan pria itu hampir sama yah, misal perempuan sekitar 50% maka sebaliknya jumlah prianya sekarang 49 sekian persen. Jadi kalau dalam pembangunan perempuan tidak diberikan kesempatan mungkin akan pincang karena hanya lelaki saja yang bekerja,” ujar pria yang pernah bekerja di Komnas HAM.

Kesuksesan yang diraih Rudy saat ini tidak lepas dari doa dan didikan sang ibu, karena semasa dulu ia yang hidup dalam kesederhanaan dan harus hidup tanpa sosok ayah yang terlebih dulu meninggalkan dunia, merupakan kenangan yang tak pernah dilupakan sepanjang hidupnya.

“Ibuku dulu itu seorang single parents yang harus menghidupkan Sembilan anak, termasuk saya. Beliau rela menjadi tulang punggung untuk bisa memberikan pendidikan ke anaknya. Kalau kata ibu itu kita hidup sederhana yang penting semua bisa mengenyam pendidikan tinggi,” tandas Rudy yang sering ditemani belajar oleh ibunya.

Rudy yang kini telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak,masih menerapkan gaya hidup yang sederhana dan mengajarkan kepada kedua anaknya untuk bisa menghormati perempuan.

Ayah dari Faradi Pramudito dan Arya Pradipto  mencotohkan bagaimana cara sederhana untuk menghormati perempuan, yaitu dengan cara meringankan pekerjaan rumah dari seorang ibu dan mengantarkan kemana saja bila sangat diperlukan.

“Meski kita punya pembantu tetapi kadang saya juga menyuruh anak saya untuk bantu bersih-bersih, atau kalau ibunya mau pergi kemana dan minta ditemenin kadang mereka selalu siaga untuk ibunya,”tandas suami dari Medhira Iswara.

Pria yang pernah menjadi ketua umum kejuaran karate antar fakultas di Undip ini, mengaku bahwa dirinya tidak pernah mengira bisa menjalani hidup bersama Medhira. Rudy merupakan sosok pria yang penuh tanggung jawab, karena dia tahu bagaimana memperlakukan

“Rumah istri saya itu dulu Cuma beda beberapa meter, awalnya kami tidak pernah tahu, tapi saya kenal dengan dia itu setelah dikenalkan paman saya saat di Jakarta setelah kenal dan mantap maka kami memutuskan untuk menikah. Saat kami menikah itu dan hamil anak pertama istri saya itu masih kuliah di Universitas Indonesia, pernah sampai saya dipanggil oleh dosenya untuk membantu istrinya menyelesaikan kuliahnya,” tegas pria yang senang sekali makan Bakmi Jowo.

Karena mendapat teguran dari dosen istrinya maka Rudy pun membantu sang istri menyelesaikan study sang istri, hingga pada akhirnya sang istri pun mampu meraih gelar sarjana.

Pahit manis kehidupan yang telah dijalanin oleh Rudy merupakan sebuah pengalaman yang tak pernah ia lupakan. Meskipun kini ia hidup dalam kesuksesan tidak membuat Rudy menjadi besar kepala, sebuah filosofi jawa yang masih ia ingatnya adalah “Gemi nastiti ngati-ati” yang artinya hidup yang tidak boros. (Jun)

Comments

comments