no image

Permission Marketing, Para Marketer Wajib Melakukan Cara Ini

  • admin
  • May 30, 2012

Ketika sedang asyik-asyiknya berdiskusi dengan teman mengenai pekerjaan, tiba-tiba telpon saya mengeluarkan dering masuknya sebuah pesan SMS. 

Ingin rasanya saya cuek dengan pesan SMS ini, tetapi hati saya kurang enak karena bagaimana kalau yang masuk adalah pesan singkat yang sangat penting dari keluarga?

Dengan rasa berat hati, saya ambil mobile phone saya dari kantong celana dan melihat pesan SMS tersebut. Yang saya lihat adalah sebuah penawaran “Pinjaman Tanpa Agunan” yang notabene saya tidak tertarik sama sekali. Pesan SMS yang menjengkelkan tersebut langsung saya hapus dari mobile phone saya…

Illustrasi diatas tentunya anda sering mengalaminya. Kita sering di bombardir oleh pesan SMS dan ketika anda membuka SMS tersebut, tidak ada relevansi sama sekali dengan kegiatan atau pun pekerjaan anda.

Pada akhirnya pasti anda tidak membaca pesan tersebut dan membuangnya dengan hati yang sangat jengkel. Hal ini disebabkan oleh “interupsi” yang tidak relevan dengan interest kita.

Seth Godin, seorang pakar Marketing menulis buku berjudul “Permission Marketing – Turning Strangers Into Friends, and Friends Into Customers”, mengatakan bahwa interruption marketing tidak efektif, apalagi audiens memiliki banyak pilihan untuk melihat hal-hal yang lain.

Interruption marketing ini seperti halnya SMS atau iklan di televisi. Sebagai contoh, apabila anda melihat stasiun TV – SCTV dan kemudian tiba-tiba ada iklan, anda akan dengan sangat mudah memindah chanel TV melalui remote control.

Dan kemudian setelah beberapa menit, anda dapat mengembalikannya kesaluran SCTV kembali. Hal ini disebabkan karena anda mempunyai pilihan dan anda tidak suka adanya interupsi dari iklan atau advertising dari sebuah produk.

Seth Godin juga mengatakan karena tiap hari kita dibanjiri oleh iklan dan pesan promosi dimana saja dan kapan saja, hal ini sudah tentu memberikan blocking mental kepada pesan promosi tersebut.

Maka itu, untuk menarik perhatian dari prospek, kita harus menggunakan umpan atau bait. Hal ini bisa berupa hadiah, sampel gratis, diskon khusus, kontes atau survei opini. Setelah mereka mau berpatisipasi, maka tugas kita untuk memulai membuat suatu hubungan jangka panjang dan mengarahkannya ke penjualan.
 
“Hanya dengan berbicara ke mereka saja, maka konsep ini menjamin konsumen akan menaruh perhatian lebih banyak ke pesan-pesan promosi Anda. Gaya dan konsep permission marketing sebenarnya juga telah dan terus diterapkan oleh Amazon.com, American Airlines, Bell Atlantic, dan lain-lain. Saya pun melakukan hal ini dengan cara “Opt In” dengan memberikan hadiah majalah di website “ValueYogaMat.Com”.

Dengan cara ini, saya bisa berkomunikasi dan bersahabat dengan calon pelanggan yang pada tujuan akhirnya saya menjual produk saya (yoga mat dan aksesorisnya). Email yang saya kirimkan pada mereka bukannya e-mail penawaran produk, tetapi lebih pada informasi mengenai “yoga” sebagai senam kesehatan.

Dari situlah, calon pelanggan lebih percaya kepada brand name dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan. Percayalah, saya sudah melakukan hal ini berkali kali dan lebih efektif dari pada me-interupsi para calon pelanggan dengan sesuatu yang tidak relevan sama sekali…

Gaya “Permission Marketing” ini tentunya membutuhkan kreatifitas yang tinggi untuk pertama kali dapat berkomunikasi dengan pelanggan. Karena, anda harus menawarkan sesuatu yang sangat menarik, bisa berupa informasi yang mereka cari, hadiah atau diskon yang sangat besar pada suatu produk atau servis.

Permission Marketing juga memberikan ketajaman yang lebih pada “targeting” suatu pasar. Untuk memastikan hal ini, maka berilah hadiah atau informasi yang relevan dengan produk dan servis yang nantinya akan ditawarkan.

Dengan menawarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan target market, anda tentunya akan mendapatkan response rate yang rendah pada penawaran produk anda pada fase berikutnya.

Melihat contoh diatas, sudah saatnya para marketer tidak melakukan interupsi lagi di marketing program mereka, tetapi lakukanlah permission marketing sesuai teori yang dikemukakan oleh Seth Godin.

By: Kurnia Kwik
Entrepreneur, Educator & Investor

Comments

comments