no image

“Psikologi itu Ilmu yang Seksi”

  • admin
  • September 19, 2013

Pernahkah terbayang dalam benak Anda bila harus berurusan dengan masalah rumah tangga orang lain? Jangankan berurusan dengan masalah mereka, mengurusi masalah rumah tangga sendiri saja sudah minta ampun susahnya. Mungkin itulah yang ada di pikiran sebagian dari Anda.

Namun itulah yang dilakukan oleh Anna Surti Ariani. Sebagai seorang psikolog anak dan keluarga, ia gemar “berurusan” dengan kehidupan rumah tangga orang lain. Hanya saja konteksnya positif, yakni sebagai mediator atau fasilitator untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh mereka yang telah berkeluarga.

Tidak hanya melayani konsultasi kliennya secara personal, namun perempuan berpembawaan ramah ini juga aktif menulis di berbagai kolom media cetak, serta kerap mengisi acara seminar bertemakan keluarga maupun pola pengasuhan anak.

Nina, sapaan akrabnya, mengaku tertarik dengan dunia psikologi sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu ada seorang psikolog yang datang mengunjungi sekolahnya. Ia tertarik untuk melakukan konsultasi dengan psikolog tersebut. Kemudian ia merasa saran yang diberikan oleh si psikolog sangat berguna bagi dirinya.

Sejak saat itu ia amat tertarik untuk mengerti dan memahami dunia psikologi lebih jauh. Ketertarikannya tersebut tetap ia rasakan hingga ia duduk di bangku pendidikan tinggi.

“Psikologi itu menurut saya sangat menarik. Kita bisa tahu alasan orang dalam melakukan sesuatu. Kita bisa memahami orang di sekitar kita secara lebih jauh. Kalau misalnya saja ada orang yang peringainya buruk, saya bisa mengerti mengapa ia berperilaku seperti itu. Mungkin karena faktor latar belakang atau lingkungan, yang akhirnya membentuknya menjadi pribadi seperti itu. Hal tersebut membantu saya untuk bisa berpikir positif terhadap orang lain,” ujar wanita kelahiran 10 April ini.

Secara khusus ia mendalami bidang psikologi anak dan keluarga. Hal tersebut ia pilih lantaran keduanya amatlah berkesinambungan dan terikat antara satu dengan yang lain.

“Jika anaknya saja yang kita tangani, namun orangtuanya tidak, maka hasilnya tidak akan bagus. Sebaliknya, jika orang tuanya saja yang kita tangani sementara anaknya tidak, hasilnya tak akan berjalan optimal. Namun saat kita menangani mereka sebagai keluarga secara utuh, maka hasil terbaiknya bisa didapat,” katanya.

Ketika ditemui Perempuan.com di sebuah kafe di bilangan Senayan, Jakarta, Nina mengemukakan bahwa ilmu psikologi itu bukan sekadar teori belaka. Psikologi bisa menjadi sebuah aplikasi yang luar biasa dalam hidup. Semakin aktif ia mempelajari psikologi, ia menjadi semakin terbantu dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

“Misalnya dalam mengasuh anak-anak saya. Saya belajar lagi, membuka buku lagi tentang psikologi anak, dan saya mendapat jawabannya dari situ. Dan pada nyatanya hal tersebut memang sangat membantu,” ujar ibu dua anak ini.

Walau begitu, sama seperti pekerjaan lain pada umumnya, Nina juga mengakui bahwa dunia psikologi memiliki resiko dan tantangannya tersendiri. Namun, justru karena resiko yang dimilikinya yang membuat Nina merasa bahwa ilmu psikologi menjadi lebih menarik dari bidang studi yang lain.

“Seperti seorang dokter, apabila obat yang ia suntikkan kepada pasiennya tidak tepat, si pasien bisa saja meninggal. Begitu pula dengan psikologi, apabila saya memberikan saran atau arahan yang salah, bisa saja klien saya membawanya sampai mati. Namun bagi saya itulah yang membuat psikologi itu lebih seksi, pengaruh yang dibawanya amatlah luar biasa. Tidak terlihat, namun bisa dibuktikan,” tukasnya.

Nina juga mengingatkan bahwa seorang psikolog harus pintar-pintar memanajemen situasi dan emosi. Hal ini dikarenakan ia tidak boleh untuk terlibat, baik secara langsung maupun emosional, terhadap problema si klien. Kemampuan untuk memposisikan diri mutlak harus dimiliki oleh seorang psikolog profesional.

“Belakangan ini saya banyak menangani kasus seputar perselingkuhan. Di situ energi saya benar-benar terkuras. Ketika klien saya merasa sedih, saya jadi ikut prihatin. Sebaliknya, ketika mereka gembira, saya juga ikut senang. Hal itu wajar mengingat kita adalah manusia yang mempunyai empati. Namun sebagai konselor, jangan sampai kita terjebak dalam emosi yang terlampau dalam. Jika hal itu terjadi, maka kita tidak akan bisa obyektif dalam menyelesaikan masalah,” jelasnya.

Bicara lebih lanjut soal perselingkuhan yang jamak dilakukan oleh berbagai pasangan yang telah terikat dalam perkawinan, Nina memaparkan bahwa perselingkuhan terjadi karena adanya ketidakseimbangan dalam sebuah hubungan. Ketidakseimbangan dalam hal apa saja?

“Dalam psikologi, ada yang namanya teori ‘triangular of love’, yakni intimacy (keintiman), passion (gairah), dan komitmen. Seperti halnya segitiga, ketiganya harus seimbang dan berjalan beriringan,” tandas lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Untuk memelihara keintiman, Nina menyampaikan bahwa dibutuhkan rasa percaya terhadap pasangan. Kita harus mengenal betul karakteristik pasangan itu seperti apa. Mengenal di sini bukan hanya dirinya secara personal, melainkan juga mengenal teman-temannya.

Menurutnya, jika kita menjalin komunikasi yang baik dengan teman-temannya, maka mereka tidak akan segan untuk bertukar informasi dengan kita mengenai kegiatan pasangan di lingkungannya.

Hal ini dilakukan bukan dalam konteks kita hendak menguntit pasangan atau mencurigai mereka. Namun sebagai sebuah gambaran, seperti apa suasana hati pasangan saat berada jauh dari kita. Apabila ternyata ia mempunyai masalah, kita bisa membantu untuk menenangkan dan memecahkannya bersama.

Dalam memelihara gairah, Nina menyarankan agar pasangan tak ragu untuk saling bereksplorasi. Eksplorasi tersebut bisa berupa permainan dan variasi dalam teknik bercinta. Hal ini dilakukan supaya pasangan tidak bosan dengan kegiatan bercinta yang itu-itu saja.

Sedangkan dalam membangun komitmen, Nina menekankan akan pentingnya memelihara keimanan dan ketakwaan pada Tuhan. Sebuah komitmen perkawinan tentu mempunyai Tuhan sebagai dasarnya. Ada baiknya kita melakukan kegiatan keagamaan bersama-sama dengan pasangan, seperti berdoa dan beribadah bersama.

Terpenting, keterbukaan dan komunikasi dengan pasangan adalah hal yang paling dibutuhkan dalam mempertahankan sebuah hubungan. Dalam berbagai masalah yang ditanganinya, Nina acapkali menemukan bahwa banyak orang mempunyai asumsi negatif terhadap pasangannya. Padahal, belum tentu asumsi tersebut memiliki dasar bukti yang kuat.

Hal ini diakibatkan oleh adanya kebekuan dalam pola komunikasi yang dilakukan antar pasangan. Oleh karenanya, Nina mendorong agar kedua pasangan saling terbuka, jujur, dan komunikatif.

“Jika Anda sedang tertarik ataupun dirayu oleh orang lain, katakan saja sejujurnya pada pasangan Anda. Mintalah saran dari dia akan apa yang sebaiknya Anda lakukan. Komunikasikan akan apa yang Anda larang dan perbolehkan pada pasangan. Begitu pula sebaliknya. Ini dilakukan untuk mereduksi rasa curiga dan membentuk kesan supaya tidak ada yang disembunyikan dengan pasangan,” jelasnya.

Permasalahan yang juga kerapkali dihadapi oleh banyak keluarga belakangan ini ialah sulitnya membagi waktu antara pekerjaan dengan urusan rumah. Tak sedikit dari mereka, baik lelaki maupun perempuan, yang merasa kesulitan dalam membagi waktu antara beban kerja dengan tanggung jawabnya di rumah. Menyikapi masalah ini, Nina mencoba untuk memberikan solusinya.

“Manajemen waktu dan manajemen pekerjaan kita ialah intinya. Misalnya kita hendak pergi ke beberapa meeting sekaligus dalam sehari, jika memungkinkan aturlah pertemuan tersebut di tempat yang tidak terlalu jauh antara satu dengan yang lain. Gunanya untuk efisiensi waktu serta tenaga. Ketika kaitannya dengan keluarga, maka agendakanlah itu dengan komitmen,” tukasnya.

Bagi Nina, mengenali pola dan beban kerja yang dilakukan akan membantu kita dalam usaha memanajemen waktu dan situasi, asal hal tersebut dilakukan dengan kedisiplinan.

Nina memaparkan bahwa segala sesuatunya bisa berjalan dengan seimbang, namun tentu harus ada yang dikorbankan jika itu menyangkut dilema antara urusan kantor dengan urusan rumah. Pertanyaannya ialah, mana yang akan Anda prioritaskan? Anda sendirilah yang memiliki jawabannya.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti jejak Nina sebagai seorang psikolog anak dan keluarga, Nina mencoba untuk memberikan beberapa masukan yang bisa jadi akan berguna bagi karir Anda kelak.

“Sesuaikan pekerjaan ini dengan karakter Anda. Misalnya saja jika Anda gemar bermusik. Kegemaran tersebut bisa Anda aplikasikan dalam bidang ini. Musik bisa saja menjadi terapi tersendiri. Kalau Anda pandai dalam melakukan analisa, maka Anda bisa membuat tes-tes tertentu yang dapat menyimpulkan pribadi si klien yang Anda tangani,” ujarnya.

Nina kemudian menambahkan, “Kalau saya pribadi, saya suka berbicara dan mau untuk mendengarkan keluh kesah orang, maka saya merasa nyaman untuk menjadi seorang konselor. Yang penting terjunlah secara total dan belajarlah dengan sungguh-sungguh.”

Saat ini, Nina juga mengasuh sebuah situs bernama pranikah.org yang ia rintis bersama beberapa rekannya. Laman tersebut berisi materi persiapan menjelang pernikahan, baik dari segi psikologis, medis, keuangan, dan hukum. Ke depannya, Nina berharap untuk dapat lebih banyak terjun ke wilayah pelosok Indonesia Timur.

“Banyak saudara kita di daerah pelosok yang belum paham akan psikologi dikarenakan keterbatasan mereka akan informasi. Padahal, bisa jadi ilmu psikologi yang diterapkan dapat membantu mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Saya ingin lebih banyak berkarya di sana suatu saat nanti,” pungkasnya. (stv)

 

Teks: Stephen Willy
Foto: Dok. Anna Surti Ariani

Comments

comments