no image

Tasaro GK, Penghayal Kelas Berat

  • admin
  • December 20, 2010

Nama aslinya Taufik Saptoto Rohadi, tapi ia lebih enjoy dipanggil dengan nama Tasaro GK. GK sendiri diambil dari nama daerah Tasaro berasal, yakni Gunung Kidul, Yogyakarta. Pria kelahiran 1 September ini telah menulis sejumlah buku dan novel. Diantaranya “Muhammad SAW : Lelaki Penggenggam Hujan”, “Galaksi Kinanthi” dan karyanya yang terbaru adalah “Nibiru Dan Kesatria Atlantis”. Sebuah novel yang disinyalir akan menjadi pesaing novel Harry Potter. Semua karya fiksinya lahir dari satu kebiasaan kecil yang tidak pernah dihilangkannya, yakni berkhayal.

Saat membuat novel, Tasaro GK mengaku tidak banyak menemui hambatan. “Sebab menulis sudah menjadi bagian dari diri saya. Ditambah saya seorang pengkhayal tingkat tinggi. Alhamdulillah belum pernah kehabisan ide karena mengkhayalnya gak pernah putus, hahaha,” gelaknya membuka perbincangan saat ditemui perempuan.com disela-sela peluncuran buku “Nibiru Dan Kesatria Atlantis”, beberapa waktu lalu. Karena sudah menjadi bagian inilah, menulis novel setebal 704 halaman itu pun menjadi sebuah hal yang biasa untuk Tasaro.

Ide dari pembuatan Nibiru sendiri berawal dari rasa penasaran Tasaro pada fenomena teknologi canggih masa lampau, seperti gambar pesawat di salah satu dinding piramida. Gambar-gambar tersebut ditemukan pada balok atas penyangga langit-langit sebuah ruangan kuil kerajaan Mesir Kuno, yang lokasinya berada di Abydos, beberapa ratus mil sebelah selatan Kairo dan plato Giza. “Jika diperhatikan, Objek-objek pada gambar tersebut, dilihat dari perlengkapan fisiknya adalah pesawat yang dioperasikan di dalam lapisan berudara seperti di permukaan bumi, bukan untuk ruang angkasa yang hampa udara. Karena itu digunakan sayap samping dan ekor serta baling-baling,” tutur Tasaro menceritakan. Padahal Kuil Abydos ini dibangun untuk Dewa Osiris oleh firaun Mesir kuno, Seti I (1306-1290 SM) dan diselesaikan oleh penerusnya, Ramses II. “Dan itu sudah 200 sebelum masehi,” imbuhnya lagi.

Belum lagi ratusan patung batu yang mengitari Pulau Paskah, Stonehenge yang ada di Inggris, sebuah batere pra sejarah yang ditemukan di Irak, beberapa tengkorak dari kristal yang bentuknya sama persis seperti tengkorak manusia. “Jika tengkorak itu merupakan pahatan, halus sekali. Sangat halus. Teknologi secanggih apapun di masa kini belum tentu bisa memahatnya,” tukas Tasaro. Dan puncaknya adalah jembatan rama yang menghubungkan Sri Lanka dan India. Jembatan sepanjang 47 km itu diyakini sebagai bagian dari benua Atlantis yang hingga kini masih menjadi misteri.

Sebuah buku karangan Prof. Arysio Nunes Dos Santos berjudul “Atlantis The Lost Continents Finally Found”, menarik perhatian Tasaro. “Dari buku ini juga akhirnya terbersit novel baru saya. Kenapa Atlantis? Karena ternyata, menurut Prof. Santos ini, Atlantis adalah Indonesia, sesuai dengan gambaran Atlantis dari Plato,” jelas pria yang memulai karirnya dari bidang jurnalistik ini.

Sesuai gambaran Plato tentang benua Atlantis, ia bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga. Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Yang kuasa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Dalam bukunya Plato juga menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara kaya yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang. Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di khatulistiwa. Luas Atlantis yang hilang itu lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu. “Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan. Dahsyat, kan?” jelasnya menggeleng-gelengkan kepala. Pertanyaan-pertanyaan misteri dunia itu pulalah yang akhirnya menggiring pikiran dan khayalan Tasaro untuk membuat buku dengan setting negeri Atlantis. Akhirnya lahir novel ini yang merupakan kisah aksi fantasi pertama di Indonesia yang diperuntukkan bagi semua kalangan umur.

Persiapan memuat novel ini lumayan lama. Sekitar dua tahun dan Tasaro memikirkan dengan matang semua unsur dalam novel ini seperti tokoh, jalan cerita, ide, filosofi bahkan desain sampul dan layout. Setelah semua matang, akhirnya keluarlah “Nibiru Dan Kesatria Langit” yang diterbitkan oleh Penerbit Tiga Serangkai. “Kalau dilihat, buku ini aslinya diperuntukkan bagi anak-anak. Buat saya, buku anak-anak bukan sesuatu yang mudah untuk ditulis, karenanya rentang waktunya lama sekali. Saya juga akan menulis sekuelnya di tiap tahun. Akan ada 4 seri lagi dan jumlah keseluruhannya menjadi 5 seri novel Nibiru ini,” jelasnya.

Meski memasang target, Tasaro menampik jika ini dikatakan proyek kejar tayang. Ia lebih suka menyebutnya sebagai produktif, “Buat saya, sebuah novel lahir karena dia memang harus lahir. Ada pencapaian disana,” imbuhnya santai.

Ada sinyalir bahwa novel “Nibiru Dan Kesatria Atlantis” mengambil ide seperti novel Harry Potter – Jk. Rowling yang fenomenal itu. Menjawab pertanyaan demikian, Tasaro lagi-lagi berujar santai. Menurutnya, tidak ada suatu hal yang baru di dunia ini. Jadi tak salah jika penulis mana pun pasti akan mencomot ide dari berbagai tempat. “Kita dituntut untuk membuatnya menjadi sesuatu yang baru, yang inovatif hingga hasilnya menjadi karya orisinil,” jelas Tasaro tersenyum. Ia pun tidak pernah takut akan kehabisan ide dalam pembuatan novel 5 seri dengan halaman super tebal. Namun ia tak menampik, yang namanya mampet ide itu pasti ada. Lantas bagaimana cara mengatasinya?

Tasaro membagikan resep khususnya. “Jadi, bila ide tersumbat saat menulis, tinggalkan sejenak. Lalu bacalah satu atau dua buku yang temanya hampir mirip dengan tema yang akan anda tulis. Kalau anda kreatif, biasanya akan muncul kembali ide-ide segar dari hasil membaca tadi,” jelas ayah dari Senandika Himada ini.

Dan satu hal yang tidak boleh dihilangkan, bahkan kalau perlu harus diasah, yakni memperbanyak khayalan. Khayalan dan imajinasi ternyata merupakan bagian penting saat Tasaro menulis “Nibiru Dan Kesatria Atlantis”. Apalagi jika khayalan digabungkan dengan keseharian, “Kita jadi merasa masuk kedalam ceritanya sebab ada penggalan keseharian kita. Tidak perlu jauh-jauh, baca saja Harry Potter. JK Rowling mengambil setting sekolahan yang digabungkan dengan dunia sihir. Di sekolah penyihir itu ada guru yang galak, ada yang baik. Nah, seperti itu juga penggambaran keseharian di sekolah kita. Jadi, berkresilah dengan pengembangan dari khayalan dan imajinasi yang tanpa batas,” kata Tasaro mengakhiri perbincangan.

(foto : istimewa)

Don't be shellfish...Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>