Hanamasa Resto

Tingkat Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah

08 August 2012


Rabu. Tingkat pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada bayi hingga usia enam bulan, di Kota Solo terhitung masih rendah, tercermin dari jumlah bayi yang diberi ASI Eksklusif baru sekitar 40,9 persen dari seluruh kelahiran di Solo.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Pemkot Surakarta, Siti Wahyuningsih di Solo, Selasa mengemukakan, rendahnya prosentase pemberian ASI eksklusif tersebut dipengaruhi berbagai faktor.

Banyaknya ibu menyusui yang bekerja dan tidak memberikan ASI saat bekerja, menurut dia, adalah salah satu menjadi penyebab paling utama. Selain itu, gencarnya penyebaran produk susu formula juga menjadi penyebab lain.

"Ya bagaimana lagi sekarang kebanyakan ibu menyusui bekerja di luar rumah. Itu menjadi penyebab utamanya, selain itu juga beredarnya produk susu formula yang mudah dibeli masyarakat," katanya.

Ia mengatakan, sejumlah upaya sudah dilakukan oleh DKK. Antara lain dengan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan. "Kita akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif ini," katanya.

Menurut Siti, pihaknya juga sudah berupaya untuk menekan penggunaan susu formula. Bahkan DKK sudah melarang iklan susu formula untuk bayi di sejumlah rumah sakit, rumah bersalin dan bidan praktek di Solo. Jika nekad tetap memasang iklan, sanksi yang mengancam sampai pada pencabutan izin prakteknya.

"Kita sudah melarang iklan susu formula untuk bayi di berbagai fasilitas kesehatan, tetapi lagi-lagi tetap ada yang sembunyi-sembunyi memberikan susu formula. Padahal sanksinya bisa dicabut izinnya," katanya.

Siti mengungkapkan, untuk mensukseskan program ASI Eksklusif tersebut, pihaknya juga berupaya untuk supaya tempat-tempat umum diberikan fasilitas ruang laktasi atau ruang menyusui. "Kalau di mal-mal saya lihat sudah ada. Ini terus kita gencarkan supaya setiap fasilitas umum diberi ruang laktasi supaya ibu bisa dengan bebas menyusui di sana," katanya.

Selain ruang laktasi, di lokasi bekerja diharapkan juga dilengkapi dengan penitipan bayi. Sehingga di saat-saat jam istirahat ibu bekerja bisa memberikan ASI kepada bayinya. "Alangkah baiknya kalau sekaligus dilengkapi dengan penitipan bayi di lingkungan bekerja ibu," paparnya.

Sementara pada fasilitas pemerintahan sendiri, menurut Siti, karena keterbatasan dana, saat ini baru terminal Tirtonadi yang sudah dilengkapi dengan ruang laktasi.

Nantinya, kata Siti, sejumlah pasar tradisional juga akan dilengkapi ruang laktasi. Seperti di Pasar Gede, Pasar legi, Pasar Gading supaya mbok-mbok bakul yang punya bayi bisa mendapatkan lokasi menyusui yang sesuai standar kesehatan.


blog comments powered by Disqus

Fresh News Index