no image

YKLI: Waspadai Sayur dan Buah Impor Gunakan Pengawet Berbahaya

  • admin
  • August 9, 2012

Kamis. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumatera Utara Abubakar Siddik mengingatkan konsumen agar tetap mewaspadai buah dan sayur impor yang menggunakan bahan pengawet berupa formalin dan pestisida.

“Bahan pengawet sejenis kimiawi itu sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen dan masyarakat yang mengonsumsi produk hortikultura tersebut,” katanya di Medan, Rabu.

Untuk mengantisipasi bahan pengawet buah dan sayuran tersebut, menurut dia, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), Dinas Kesehatan, dan Dinas Perdagangan perlu melakukan razia ke tempat pusat perbelanjaan mewah yang biasa menjual produk dari luar negeri itu.

Razia terhadap produk luar tersebut harus secepatnya dilakukan, mengingat semakin dekatnya Hari Raya Idulfitri 1433 Hijriah, katanya.

“Dalam menyambut dan merayakan Lebaran, biasanya ada temuan terhadap makanan dan minuman yang bermasalah, misalnya, habis masa berlaku produk itu atau telah kedaluwarsa,” ucap dia.

Abubakar mengharapkan, dalam perayaan Idul Fitri itu, tidak ada produk makanan yang bermasalah yang dapat mengancam keselamatan konsumen maupun masyarakat.

“Petugas BBPOM dan Dinas Kesehatan dan jangan sampai lengah untuk memantau perkembangan buah dan sayuran yang masuk ke Tanah Air. Ini jelas sangat berbahaya dan dapat menebarkan penyakit terhadap tanaman dan juga kepada manusia,” ujarnya.

Buah-buahan dan sayuran yang masuk itu, lanjut dia, perlu diawasi dan diteliti apakah memang benar ada label halalnya, label merek kesehatan, dan lainnya.

“Pemerintah juga jangan sampai kecolongan dengan masuknya tanaman hortikultura yang membawa bibit penyakit. Hal ini jelas akan merugikan negara dan juga petani di dalam negeri,” ucap dia.

Dijelaskan Abubakar, terjadinya kecurigaan terhadap buah dan sayur yang didatangkan dari luar negeri karena barang tersebut tetap kelihatan segar dan baru.

Padahal, kata dia, barang yang dikirim itu beberapa hari lamanya di dalam perjalanan. “Ini perlu dicurigai untuk mengetahui kenapa bisa terjadi hal yang seperti itu,” katanya.

“Petugas BBPOM dan Dinas Kesehatan harus menyelidiki buah dan sayuran itu. Ini menjadi pekerjaan dan tugas yang cukup berat yang dihadapi institusi bidang makanan dan kesehatan tersebut,” ucap dia.

Sebelumnya, Pemerintah telah melakukan pengendalian impor produk hortikultura tersebut dengan mengurangi pintu masuk impor buah dan sayur dari delapan menjadi empat pintu masuk, yakni Surabaya, Belawan, Makassar, dan Bandara Soekarno-Hatta.

Mulai 19 Juni 2012, impor buah dan sayuran melalui empat pintu masuk tersebut. Pengendalian impor tersebut, bukan untuk membatasi volume impor, melainkan untuk mencegah masuknya penyakit bersamaan dengan produk impor.

Comments

comments