Thursday, Jul 27, 2017
HomeResensiMoviesMustang: Potret 5 Remaja Perempuan dalam Kungkungan Budaya Konservatif

Mustang: Potret 5 Remaja Perempuan dalam Kungkungan Budaya Konservatif

Deniz Gamze Ergüven

Judul Film: Mustang

Negara: Turki

Sutradara: Deniz Gamze Ergüven

Rating: 8/10

 

Bercerita tentang Lale dan keempat saudari perempuannya yang menghabiskan awal musim panas mereka dengan bermain di pantai bersama teman laki-laki mereka yang sebaya. Salah seorang tetangga yang menyaksikan kejadian itu kemudian mengadukan hal tersebut kepada nenek mereka. Lima kakak beradik yang yatim piatu dan dirawat oleh nenek dan pamannya ini, sejak hari itu dikurung di dalam rumah dan terpaksa putus sekolah sebelum dinikahkan dengan laki-laki pilihan keluarga.

Film bertema feminis ini disutradarai oleh sutradara perempuan berdarah Turki Deniz Gamze Ergüven , tak hanya menyentuh dan terasa begitu sentimentil, Deniz Gamze Ergüven  juga tak lupa menyelipkan komedi ringan di sepanjang filmnya. Dari segi teknis, pergerakan kamera yang dinamis dan terasa sangat mengedepankan estetika membuat film ini begitu nyaman dan indah untuk dinikmati, kedekatan antar tokoh terasa begitu natural, dalam hal ini sang sutradara nampaknya cukup berhasil menyajikan dramaturgi yang baik hingga film ini dapat menyampaikan pesan yang begitu besar melalui sajian yang dapat dicerna dengan mudah dan terasa dekat di hati penonton.

Deniz Gamze Ergüven

Sepanjang film, penonton diajak untuk melihat dari dekat kehidupan sehari-hari 5 kakak beradik remaja perempuan di salah satu desa terpencil di Turki, lewat sudut pandang si anak bungsu, yang dari awal film memang sudah diperlihatkan memiliki watak yang keras, berani, serta gemar mengamati sekitarnya. Nasib yang menimpa ke empat kakak perempuannya kemudian membawanya pada suatu keputusan yang besar dan sangat berani, apalagi untuk ukuran gadis kecil seusianya. Di hari pernikahan kakaknya, ia memutuskan untuk kabur dari rumah, dan membawa serta kakaknya untuk pergi ke Istanbul bersamanya. Kepergiannya dibantu oleh seorang teman laki-lakinya yang ia kenal saat ia membutuhkan tumpangan ke kota untuk menonton pertandingan sepak bola. Dari laki-laki tersebut pulalah ia belajar mengendarai mobil dan kemudian memanfaatkan kemampuan menyetirnya yang pas-pasan untuk kabur dari rumah dengan mobil pamannya.

Issue tentang virginitas dan hak-hak, serta kebebasan perempuan tampaknya menjadi pesan utama yang ingin disampaikan oleh sang sutradara. Seperti kebanyakan negara timur lainnya, khususnya yang masih memegang teguh nilai-nilai moral berdasarkan agama secara konservatif, sang sutradara mengambil potret kehidupan remaja perempuan di Turki di tengah kungkungan para generasi tua yang masih memegang teguh nilai-nilai lama. Berdasarkan wawancara dengan beberapa media, setting desa kecil dipilih, karena sutradara tak ingin pesan yang ia sampaikan menjadi bias, dan terlihat memojokkan agama tertentu, karena di kota-kota Turki lainnya yang telah jauh lebih maju seperti Istanbul, pola pikir masyarakat dan para orangtua jauh lebih terbuka dan moderat.

Kontradiksi kemudian terjadi, saat sang paman yang harusnya melindungi para keponakan perempuannya, dan sedari awal tampak sangat otoriter dan tegas, ternyata merupakan seorang hipokrit, yang secara diam-diam menjadi mesin penghancur bagi keponakannya.

Bagi pecinta film-film bertemakan perempuan, film ini sangat wajib dan layak untuk ditonton.

 

 

FOLLOW US ON:
Tren Baru untuk Dapa
Seperti Apa sih Defi

ayuningtyas58@gmail.com

Photography, writing, travel, and film enthusiast.

Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT

})(jQuery)