Sunday, Aug 20, 2017
HomeStoryAPI SUCI

API SUCI

Api

Di suatu ketika hiduplah seorang Dewi bernama Hestia, ia adalah keturunan pertama dari Rhea dan Kronos, Hestia adalah penjaga api suci. Zeus, saudaranya sendiri pernah berniat untuk memperistrinya, namun Hestia menolaknya mentah-mentah dan bersumpah di atas kepala Zeus untuk tak pernah menikah dan menjaga kesuciannya.

*

Kau mungkin tidak akan percaya jika kukatakan padamu bahwa aku adalah seorang titisan dari Hestia, sedari kecil Dewi Hestia kerap kali muncul di hadapanku melalui mimpi, pada mulanya kupikir mimpi itu hanya berupa bunga tidur. Tapi apa kau pernah bermimpi berkali-kali dengan suatu benang merah yang panjang? Jika kau pernah, maka kau patut berhati-hati, kau tidak sedang bermimpi, kemungkinan besar kau sedang diberi wangsit.
Ada satu hal lagi yang membuat keyakinanku semakin bertambah, aku diberi nama oleh Ibu dengan nama Hestia. Ibuku hanya seorang pedagang toko kelontong yang tidak sempat mengenyam pendidikan sampai SMA. Ibuku juga tidak suka membaca, jangan kau tanya padanya kisah-kisah mitologi Yunani Kuno, majalah dan koran pun enggan ia sentuh. Ibu hanya gemar menghitung, ibu gemar mengunyah angka dan gemar pula melepehkan kata. Percayalah jika ibuku seorang yang berwawasan cukup luas, aku tak akan kebingungan bagaimana asal mula ia memberiku nama Hestia. Kau tahu dari mana ia mendapatkan ilham atas namaku? Ia memperolehnya dari mimpi. Ibu pernah bercerita bahwa di dalam mimpinya ia didatangi oleh seorang wanita yang mengenakan tudung di atas kepalanya, dan memerintahkan Ibu untuk memberi nama Hestia pada janin yang ia kandung. Sesederhana itulah sejarah namaku bermula.

Mungkin mimpi ibuku masih membuatmu tidak cukup percaya bahwa aku adalah seorang titisan dari Hestia, tapi percayalah aku tidak sedang membual, beberapa hari yang lalu mimpi kembali mempertemukanku dengannya, ini adalah pertemuan kami yang terakhir, ia memerintahkan padaku untuk menjaga api suci, yang tidak lagi berupa Api Olimpus. Hestia mengutusku untuk menjadi penjaga api suci bagi seluruh kaum hawa di muka bumi ini. Aku diperintahkan untuk menjaganya sampai mati. Aku adalah simbol dari kesucian, dan jika saja nanti aku gagal menjalankan misi ini, maka masa depan dunia akan hancur, tidak akan ada lagi perempuan yang mampu menjaga kesuciannya. Persetubuhan tidak lagi sakral dalam lembaga pernikahan, ia berkubang dalam gorong-gorong hitam nafsu manusia. Maka dari itu, aku tak boleh jatuh cinta.
Sebab, cinta adalah gerbang bagi persetubuhan.

*

Yusuf menyalakan pemantik miliknya, tak berapa lama berselang asap rokok merek lokal mengepul tebal di depan wajahnya yang berkumis. Ia tampak gelisah, perempuan itu seperti hantu, menghilang tanpa jejak dan membuatnya masygul. Bagaimanapun, ia tak boleh kehilangan yang satu ini.

*

Hestia melangkah pelan, ia tampak gugup dan gemetar, ia memang telah diberitahu mengenai sebuah rintangan yang akan dihadapinya nanti. Hestia sempat berpikir bahwa ia akan diberi sebuah senjata berupa Trisula milik Poseidon dan bertarung melawan para Raksasa, atau berperan selayaknya Srikandi dalam perang Bharatayuddha. Tapi siapa sangka jika rintangan itu berupa…

Cinta?

Rintangan itu bernama Yusuf, wajahnya bersinar seperti rembulan, membuat jantung Hestia bergetar. Membuat ia tak berani melangkahkan kaki keluar rumah, sebab di sana, di depan gerbang, sang rembulan telah menanti, dengan sinarnya yang memabukkan, dengan sepucuk mawar yang harumnya semerbak. Hestia tak kuasa melawan gelora yang dibawa Yusuf. Ia tertunduk pucat, mengutuki nasibnya yang harus menjadi perawan seumur hidup.
Yusuf tersenyum ramah, sinar matanya menyala terang dalam gelap, diserahkannya sepucuk mawar berwarna merah pekat kepada Hestia. Hestia menerimanya dengan tangan gemetar.

*

Inikah cinta itu? Yang manisnya melebihi harum manis berwarna merah muda yang biasa kubeli di pasar malam. Inikah cinta? Yang membuat perut terasa mual dan jantung berpacu lebih kencang? Jika benar adanya, sungguh aku tak kuasa menahan gejolak rasa yang satu ini. Sebab cinta telah menciptakan bara di dalam dadaku, bara itu lalu perlahan-lahan menyala menjadi api, dan api manakah yang lebih penting untuk kuperjuangkan?

*

Hestia menatap Yusuf dalam diam. Ia kehilangan kata, apa yang harus ia katakan pada Yusuf? Bahwa ia bermimpi diutus oleh seorang Dewi untuk menjadi perawan seumur hidup? Tidakkah ia akan dianggap gila?
Di hadapannya, Yusuf menanti dengan cemas.
“Aku takut kehilangan kesucianku Yusuf..” kalimat itu serta merta terlontar begitu saja dari bibirnya yang bergetar karena gugup dan menahan malu. Serta merta pula sebuah gelak tawa menyusul, Hestia sudah tahu bahwa Yusuf akan menertawai pernyataannya yang terdengar konyol. Wajahnya yang ranum bersemu merah. Yusuf semakin terkekeh, ia lalu membelai pipi Hestia dengan lembut.
“Tidak ingin kehilangan kesucian tidak lantas membuat seorang wanita menutup hatinya dari cinta Hestia. Manusialah yang memiliki kapasitas untuk menodai cinta dan mencampur adukkannya dengan nafsu duniawi.”
Hestia tertegun. Ia lalu mengingat kembali perkataan sang Dewi yang datang lewat mimpi-mimpinya. Benarkah apa yang dikatakan Yusuf?

*

Hestia menggeliat di atas dada Yusuf. Ia menghirup aroma dari tubuh Yusuf dalam-dalam, aroma itu berbau tembakau. Yusuf mendesah, Hestia mendesah lebih kencang. Derit suara ranjang terdengar nyaring di antara deru nafas mereka.

*

Pagi ini begitu sepi, begitu sunyi. Tidak terdengar suara klakson atau riuh suara manusia seperti biasanya. Hestia membuka mata, kilau cahaya matahari yang datang dari jendela membangunkannya. Kesunyian di pagi ini membuat Hestia dapat mendengar dengan jelas degup jantungnya sendiri. Tangannya meraba-raba bantal di sebelahnya.
Kosong.

Hestia hanya menjumpai secarik kertas, berisi sebaris kalimat yang terlampau singkat.
Seketika itu pula jantung Hestia berdetak lebih kencang. Bersamaan dengan jatuhnya matahari.

FOLLOW US ON:
Tips Mengajarkan Si
Taylor Swift Dikabar

ayuningtyas58@gmail.com

Photography, writing, travel, and film enthusiast.

Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT

})(jQuery)