Wednesday, Jun 28, 2017
HomeStoryJanji Nikahku Padamu

Janji Nikahku Padamu

Perempuan.com- Sore itu langit gelap tampak begitu senada dengan perasaan Arra. Gadis itu tengah duduk menatap jendela yang dipenuhi pemandangan pohon yang beroyak tersapu angin. Caffe latte yang sudah dipesannya sejak satu jam yang lalu sudah mulai dingin namun sepertinya gadis itu tak berminat meminumnya. Matanya masih terus menatap pepohonan yang mengelilingi cafe favoritnya itu, cafe yang selalu didatanginya bersama tiga sahabatnya. Tertawa ceria, tanpa beban dan membicarakan topik-topik konyol.

Namun berbeda dengan hari ini, Arra sebenarnya tak berencana menemui siapapun, hanya sekedar duduk dan merenung. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini, dia tak tahu. Kedua tangannya menopang dagu dengan tatapan kosong, tanpa menyadari betapa ramainya cafe itu saat itu.

“Disini kamu rupanya.”

Awalnya dirinya tak menyadari seseorang berbicara dengannya sampai saat seorang laki-laki mengenakan jaket biru duduk dalam hitungan detik tepat didepannya. Pria itu tersenyum ragu, memandang dengan hati-hati kemudian menghela napas.

“Ayo kita menikah.” Ungkap pria berkaca mata itu tanpa basa-basi, seolah memahami penyebab lingkaran gelap di mata Arra saat itu.

Dialah Rian, sahabat seperjuangannya semenjak sekolah menengah. Anak laki-laki yang tak pernah dewasa dalam urusan cinta, tapi sangat profesional dalam hal bisnis. Seorang anak laki-laki nakal yang Arra kenal sejak 10 tahun lalu dan telah bersahabat dengannya sejak dia memperkenalkan diri padanya di kelas 2 SMA.

“Aku sudah bilang keputusanku padamu.” Balas Arra cepat.

Anak laki-laki itu mengacak rambutnya dengan gusar, kemudian kedua tangannya menutup wajahnya.

“Kamu itu sebenarnya maunya apa sih? Kita akan segera punya anak dan kamu menolak menikah?” ujarnya pelan, sambil mengalihkan perhatian pada seluruh cafe dengan waspada.

Aku menghela napas panjang, bersahabat dengan Rian membuat Arra sangat memahami situasi mereka. Baik Arra ataupun Rian tahu benar bahwa mereka telah melakukan dosa yang sangat besar, apalagi mereka melakukannya tanpa adanya hasrat untuk hidup bersama, tanpa ada hasrat untuk saling mencintai, dan lebih parah lagi, hal ini sudah menghancurkan persahabatan yang sudah mereka bangun 10 tahun ini.

Apakah kau bisa membayangkan akan hidup bersama dengan orang yang tak kau cintai? Apalagi selama ini baik Arra maupun Rian sangat menikmati kehidupan sendiri mereka. Pernikahan adalah topik paling terakhir yang ada dalam list pembicaraan mereka, karena baik Arra ataupun Rian sama-sama takut terikat. Dan Arra tahu benar bahwa mereka sama sekali tidak cocok bersama, mereka bersahabat, sama-sama memiliki pemikiran bebas, tapi mereka tahu bahwa mereka tidak cocok sama sekali.

“Bagaimana dengan janji kita, yan? How about our freedom? Aku nggak mau terikat sama kamu. Kita bersahabat, aku nggak mau merusak persahabatan kita.”  Balas Arra sambil menghela napas panjang.

Penyesalan sudah dirasakannya beberapa hari setelah dia sadar dia tengah mengandung. Penyesalan kenapa dia harus melakukannya dengan Rian, penyesalan ini serasa mengikutinya setiap waktu dan membuatnya tak bisa hidup tenang.

“Mama memaksa aku untuk menikah. Sampai sekarang aku nggak menemukan sosok yang tepat. Sementara kamu, kamu itu sahabat aku, kamu tahu luar dalam aku kayak aku tahu luar dalam kamu. Kenapa kita tidak bisa menikah?”

“Aku takut menikah, aku takut tersakiti. Kamu tahu apa yang terjadi sama kakak-kakak aku?” Ungkapku.

Perlahan perasaan terauma yang begitu dalam akan pernikahan mencuat dalam ingatan Arra. Arra masih ingat bagaimana 5 kakak perempuannya pada akhirnya bercerai karena suami mereka yang tidak loyal. Arra tahu benar betapa besarnya rasa sakit yang diderita oleh kakak-kakaknya sehingga ia berjanji tidak akan menikah dengan siapapun itu.

“Arra, aku sahabat kamu, aku nggak akan menyakiti kamu. Aku janji, aku akan berusaha membuat kamu bahagia.” Rian telah menggenggam erat tanganku, matanya tampak berkaca-kaca, sementara wajahnya begitu gusar, tampak sangat lelah.

“Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin seseorang tersebut berpotensi menyakiti kita, kamu tahu? Aku nggak mau kehilangan kamu, makanya hentikan ide konyol itu. Toh nantinya kamu tetap bisa melihat anak ini, aku akan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.” Ujar Arra meyakinkannya.

“Apa kamu mau melahirkan tanpa suami? Apa kamu nggak memikirkan perasaan ibu kamu? Kalau kamu memang tidak ingin hidup bersama denganku, tak apa. Kita bisa menikah untuk status saja, kamu bisa lakukan apa yang kamu mau, aku nggak akan melarang. Bahkan jika kamu punya pacar baru aku nggak apa-apa. Bagaimana?” katanya dengan gusar.

Arra masih terdiam sampai saat Rian akhirnya bergumam, “Memang sulit, apalagi kita bersahabat, makanya kita buat janji, kita bikin kesepakatan, kita harus menyelamatkan diri kita. Nggak ada ruginya kan kalau kamu menikah  sama aku kan? Aku bisa terhindar dari Mama yang selalu memaksa aku dijodohkan dan kamu juga nggak perlu bingung melahirkan tanpa suami. Jadi kita bisa hidup masing- masing, berhubungan seperti sebelumnya. Bagaimana menurutmu?”

Arra memandang Rian dalam ragu sambil mengetuk meja dengan perlahan. Apa yang dikatakannya logis, sesuatu yang tak pernah  gadis itu pikirkan sebelumnya. Tapi hal ini akan menyelamatkannya, setidaknya dari gosip orang-orang tentang dirinya. Dia hanya perlu tinggal bersama Rian, tapi mereka tak perlu saling mengganggu privasi masing-masing. Dan begitu bayi mereka lahir dan saat Arra menemukan jodohnya, dia bisa saja memutuskan bercerai dengan Rian. Persahabatan mereka tidak akan terganggu bukan, karena mereka sama sekali tak memiliki perasaan?

Arra akhirnya menghela napas panjang dan tersenyum, “Baiklah, kalau begitu kita harus membuat janji, janji nikah kita.” Setidaknya satu permasalahan besar dalam hidupnya terlepas darinya. Hanya saja baik dirinya maupun Rian yang hampir tak pernah memiliki hubungan serius dengan lawan jenis tak pernah memahami makna cinta, sampai akhirnya janji ini menjadi permulaan kisah cinta mereka.

POST TAGS:
FOLLOW US ON:
Cerita Dibalik Sukse
Wow, Ini Nih Tempat

01fitrihandayani@gmail.com

Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT

})(jQuery)