Monday, Apr 24, 2017
HomeStoryMaafkan Aku, Adikku

Maafkan Aku, Adikku

Perempuan.com- Cerita ini terjadi lima tahun yang lalu. Waktu itu, Ibuku terlilit hutang di rentenir. Sebagai anak tertua yang sudah punya penghasilan, saya merasa bertanggung jawab untuk membantu perekonomian keluarga, membantu membayar hutang dan membiayai adik saya sekolah.

Adik saya yang pertama, saat itu masuk ke SMA. Kami memilihkan dia masuk ke SMK dengan tujuan agar bisa cepat dapat kerja setelah dia lulus. Lewat persetujuannya, dipilihlah sebuah sekolah SMK swasta yang iuran spp nya terjangkau bagi kami. Saya juga sempat mengajukan surat keterangan tidak mampu. Saya selaku kakaknya membayar biaya masuk sekolahnya. Saya bayar dengan cara mencicilnya.

Tanpa sepengetahuan saya, adik saya itu ternyata diam-diam memiliki pacar. Saya tahu itu karena dia sering telpon-telponan dengan seseorang. Saya sering peringatkan kalau pacaran boleh saja tapi nanti setelah lulus. Saya memang sangat keras sebagai kakak, dengan tujuan agar adik saya itu punya rasa takut setiap kali melakukan kesalahan.

Di sisi lain, setelah susah payah membayar semua hutang Ibu saya di rentenir, saya tahu kalau ternyata Ibu saya berhutang lagi. Saat itu saya merasa putus asa dan marah, seolah usaha saya untuk mengeluarkan Ibu saya dari jerat rentenir sia-sia sudah. Saya akhirnya kabur dari rumah karena sangat kecewa pada Ibu saya.

Saat saya ngekos, adik saya sempat datang ke tempat saya kerja dan mengeluh tentang keuangan sekolah yang harus dibayar. Meskipun tak tega, saya cuek saja. Saat itu saya berfikir kalau saya bisa hidup sendiri.

Berada jauh dari rumah, ternyata bukan perkara mudah. Akhirnya tak lama saya kembali ke rumah dengan harapan tak ada drama lagi tentang hutang dan keuangan. Saya sempat menjual cincin dan kalung saya demi melunasi hutang dan biaya sekolah.

Awalnya saya kira kehidupan akan jauh lebih baik. Tapi, tiba-tiba ada kejadian yang membuat semua usaha saya membantu keluarga kembali mentah. Sia-sia saja. Adik saya kabur. Selidik punya selidik dia kabur ke rumah pacarnya.  Sahabatnya bilang, adik saya memang sudah pernah beberapa kali datang ke rumah pacarnya dan bahkan telah akrab dengan Ibu pacarnya. Merasa khawatir, dengan bantuan sahabat adik saya, akhirnya Ayah dan pacar saya berusaha menjemputnya untuk pulang dan kembali sekolah.

Adik saya memang mau pulang, tapi dia katakan dia tak mau lagi sekolah. Dia malah berkata ingin menikah saja. Saat itu dunia seakan runtuh. Rasanya percuma saja saya banting tulang bantu keluarga, biayai sekolah karena adik yang saya perjuangkan malah memilih menikah dengan pacarnya.

Saya jelas menentang keras pernikahan ini karena adik saya masih kecil, pacarnya pun kita tak pernah tahu orang yang baik atau bukan dan lagi beberapa hari yang lalu uang sekolahnya sudah saya beri.

Sebagai usaha saya dan Ibu sempat mendatangi sekolahnya dan bertanya pada gurunya. Beberapa teman dan gurunya memang mengakui kalau di sekolah dia sering melamun dan murung, tapi kalau urusan uang sekolah memang selalu dia bayarkan.

Ketika pernikahan itu akhirnya benar-benar dilaksanakan berbagai gosip muncul. Orang-orang bilang adik saya hamil duluan. Tapi ketika pacarnya datang dia yang didesak oleh keluarga mengaku kalau tak ada sesuatu yang tak “wajar”. Pernikahan ini murni karena mereka memang ingin bersama dan menikah. Pacarnya memang jauh lebih tua dan bahkan lebih tua dari saya.

Semua keluarga akhirnya setuju karena tak mau sesuatu yang dibilang orang-orang benar terjadi. Saya yang terpukul merasa sangat benci pada adik saya dan tak menganggapnya adik lagi. Orang tua saya lebih memilih pasrah, mereka menekankan ini sudah takdir. Daripada ada drama lagi mending adik saya dinikahkan saja begitu pikir orang tua saya.  Sejak menikah adik saya itu pergi ke Bogor ikut suaminya yang memang kerja di Bogor

Sejak itu kita putus hubungan.

Adik saya sering menelpon orang tua saya tanpa sepengetahuan saya. Dia sangat takut sehingga tak pernah pulang. Suatu kali saat lebaran dia pernah datang tapi saya abaikan. Rasa sakit ini belum bisa hilang.

Puncaknya ketika saya menikah. Sebagai adik, dia datang tapi saya bersikeras ingin mengusirnya. Semua keluarga marah, tante saya sempat pingsan. Ibu saya mengancam, akan membatalkan pernikahan saya kalau saya tetap ingin mengusirnya.

Drama hebat terjadi, semua keluarga ribut. Suasana makin panas. Akhirnya saya tetap menikah dengan mengabaikan kehadirannya.  Sorenya dia memutuskan pulang. Tapi entah kenapa hati kecil saya menginginkan kalau dia ikut foto keluarga. Disitu suasana sangat haru. Dia mengucapkan selamat dan berpamitan untuk kembali ke Bogor.

Kejadian itu tak membuat hubungan kita membaik. Dia masih takut pada saya dan saya pun masih marah, kesal juga kecewa. Suatu kali orang tua saya sempat mengunjunginya di Bogor tanpa sepengetahuan saya karena takut saya marah. Di masa-masa hubungan yang retak ini, saya sering sekali memimpikan dia. Di dalam mimpi itu seolah dia ingin minta maaf atau entah kadang mimpi sering tak jelas, tapi saya ingat saya hampir setiap hari memimpikan dia.

Titik terang terjadi ketika suatu hari dia meminta pin bb saya. Dari situ bagaimana mulanya saya juga lupa tapi hubungan kita makin membaik. Dia cerita bagaimana susahnya kehidupan awal pernikahannya. Dengan keuangan pas-pasan bahkan dengan baju yang hanya menempel di badan. Disitu saya menangis dan merasa sangat bersalah. Saya membayangkan bagaimana dia yang masih usia belasan harus tiba-tiba pindah ke kota orang dengan uang yang tak memadai. Dia merintis kehidupan dari awal. Dari yang tak punya apa-apa sampai ke kehidupan normal berumah tangga walaupun tinggal di kontrakan.

Saya seringkali meminta maaf padanya atas perbuatan saya dulu. Tak ada yang mau ini terjadi. Saya merasa sangat jahat padanya. Dan ternyata disaat hubungan kita tak akur itu dia juga sama dengan saya. Ternyata dia juga sering memimpikan saya. Entah karena rasa bersalah yang mendalam ini hingga terbawa ke alam bawah sadar dan mimpi.

Saya dan dia sama-sama belum dikarunia anak. Tapi dia yang telah lima tahun menikah kini alhamdulillah sedang mengandung. Ada rasa iri tapi juga sangat bahagia di hati ini. Hubungan kami kini sangat baik. Kami berbagi cerita setiap hari dan saling membantu dalam urusan keuangan dan membahagiakan orang tua. Liburan lebaran kemarin kami bahkan sekeluarga mudik ke Malang.

Kini kami adalah dua saudara yang walau jauh di mata tapi tetap dekat di doa.

POST TAGS:
FOLLOW US ON:
Kasiat Jamu Tradisio
Putra Kedua Baru Lah

01fitrihandayani@gmail.com

Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT

})(jQuery)