Wednesday, Jun 28, 2017
HomeStoryMelahirkan Buah Cinta dari Kakak Tiriku

Melahirkan Buah Cinta dari Kakak Tiriku

Perempuan.com- Sejak sepeninggal Ayah tiga tahun lalu, Bunda mulai berkencan dengan seorang pria ber-perawakan sedang, berkulit putih namun bertutur kata santun. Pria tersebut sudah menduda sejak 5 tahun lalu dikarenakan sang istri sakit dan harus meninggalkan dia selama-lamanya. Aku memanggil namanya dengan panggilan Om Tos,  kependekan dari Tosrino.

Om Tos mempunyai anak lelaki bernama Juna berusia 19 tahun, dua tahun diatas umurku. Kak Juna sangat pendiam dan nyaris tak pernah berbicara. Menurut Om Tos sejak kepergian Ibundanya Kak Juna berubah menjadi seorang pria penyendiri dan pendiam.

Akhirnya, setelah berpacaran selama setahun, Bunda dan Om Tos menikah tanpa pesta, hanya berupa ijab Kabul yang di hadiri oleh keluarga besar saja. Sejak hari itu, Bunda dan aku meninggalkan rumah kontrakan dan pindah ke rumah Om Tos di bilangan Pamulang.

Sepulang kerja, Bunda, Om Tos dan aku saja yang makan malam bersama. Kak Juna tak pernah ikut gabung dengan alas an belum lapar atau sudah makan dirumah teman. Tapi Bunda memaklumi dan membiarkan Kak Juna dengan kesendiriannya di kamar.

Enam bulan aku tinggal di rumah Om Tos, mungkin hanya beberepa kali saja aku bicara dengan Kak Juna, karena Kak Juna pulang kuliah selalu masuk ke kamarnya dan tak pernah keluar kamar hingga esok paginya untuk pergi kuliah.

Hingga suatu hari, secara tak sengaja aku menjatuhkan piring di dapur dan berteriak kaget. Mendadak Kak Juna membuka pintu kamarnya dan berlari menuju dapur dan berkata keras “ Dewi, kaki mu berdarah kena pecahan beling. Menyingkirlah biar Kak Juna yang membereskan”. Itulah kalimat pertama yang pernah  di lontarkan oleh Kak Juna selama 6 bulan.

Kak Juna mengambilkan obat  dan diberikan kepadaku. Diatas jempol kaki aku lihat pecahan kaca masih menancap dan mengeluarkan darah. Aku hanya diam menahan sakit. “Sini Kak Juna ambil pecahan beling di kakimu,” lanjut Kak Juna sembil menarik cepat pecahan beling tersebut kemudian menutupnya dengan kapas yang telah diberi obat merah.

Sejak kejadian itu, hubunganku dengan Kak Juna membaik dan kami kerap bertegur sapa. Bahkan aku sesekali minta diboncengkan keluar komplek rumah untuk membeli peralatan sekolah atau makanan ringan. Namun makin lama, tumbuh rasa saying terhadap kak Juna bukan sebagai kakak saja, rasa cinta yang tumbuh perlahan.

Ternyata, bukan aku saja yang merasakan getaran asmara, Kak Juna pun merasakan hal yang sama sehingga kami mulai bingung menghadapi persoalan cinta asmara kami. Namun karena Om Tos dan Bunda bekerja, maka aku dan Kak Juna leluasa melampiaskan kasih sayang kami hingga suatu bulan menstruasiku tak datang lagi.

Kami berdua kebingungan untuk menyampaikan perihal ini kepada Bunda dan Om Tos, namun tak dapat disimpan rahasia ini terlalu lama karena perutku secara perlahan mulai membesar dan baju seragam sekolah sudah kesempitan.

Tepat ketika bulan ke 4 aku mengandung, Bunda mulai curiga dan menanyakan perutku yang mulai membesar. Memang tubuhku mungil dengan tinggi 156 cm dan berat badan 42 kg.

“ Anak durhaka, memalukan Bunda, Pergi kamu dari sini, siapa yang menghamilikamu? Setan cilik kau” teriak Bunda menggelegar. Tamparan demi tamparan menghujani pipiku, pukulan pun didaratkan ditubuhku. Om Tos menarik Bunda dan menyabarkan, namun Bunda lebih meraung, menangis berteriak kencang.

Mendadak pintu kamar terbuka dan terdengar suara “ Bunda, saya yang menghamili Dewi, saya bertanggung jawab akan menikahinya” tegas Juna sambil mengangkat tubuhku yang terpuruk jatuh dilantai.

Om Tos membalikkan badan, sedetik kemudian Juna terjungkal keras menabrak sandaran kursi. Juna tetap dilantai sehingga memudahkan Om Tos menendang, memukul dan member tamparan berulang-ulang di kepala Juna. Aku berteriak keras dan meminta Om Tos menghentikan aksi tersebut. Kulihat Juna jatuh terkulai.

Malam itu juga, aku dipindahkan ke rumahnenek di Sawangan dan tak bias sekolah lagi. Aku menghabiskan hari di rumah Nenek hanya berdiam diri hingga menunggu kelahiran anakku. Kak Juna entah dimana karena telepon selulerku di sita oleh Bunda sehingga aku tak dapat berkomunikasi dengan siapapun. Kata nenek, malam itu Kak Juna dirawat di rumah sakit kemudian menghilang hingga saat ini tak ditemukan.

Kak Arjuna, anak kita Prasetyo telah lahir sehat sempurna dengan berat 3,1 kg dan panjang 52 cm. Aku akan tetap menunggumu.

 

Dewi- Pamulang.

POST TAGS:
FOLLOW US ON:
Benarkah Suzy Bakal
Agar Makin Pede, Pas

vonika@perempuan.com

Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT

})(jQuery)