Wednesday, Aug 23, 2017
HomeStoryPernikahanku Batal, Tiga Hari Menjelang Resepsi

Pernikahanku Batal, Tiga Hari Menjelang Resepsi

Pernikahanku batal

Perempuan.comKejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu, tapi luka dihatiku tak pernah sembuh, walau aku telah memaafkannya.

Rudi Prahesa (nama sebenarnya) adalah seorang pria tampan, dimana aku menyerahkan segenap cintaku untuknya. Awal perkenalan kami disebuah pusat kebugaran, Rudi anggota sebuah pusat kebugaran bergengsi di Indonesia. Sedangkan, aku baru bergabung menjadi anggotanya sehingga beberapa minggu kemudian Rudi menyapaku dan kami langsung akrab.

Rudi berumur 25 tahun, sudah bekerja di perusahaan Farmasi. Sedangkan kala itu usiaku baru 22 tahun. Setelah pacaran setahun dengan Rudi, aku mulai menanyakan keseriusannya. Apakah pacaran ini akan berlanjut ke pelaminan atau hanya sekedar penjajagan dulu. Saat itu Rudi menjawab jelas “jelas nikah dong Mira sayang,”.   Tentu saja aku berbunga-bunga mendengar jawaban tersebut.

Beberapa minggu kemudian. Kutanya “Sayang, kira-kira kapan orang tua mu melamarku, jangan dadakan ya”, rajukku dengan menyenderkan kepala di bahunya. Dengan mengelus kepalaku Rudi menjawab “bulan depandeh”.  Wah berita besar nih pikirku. Setiba di rumah aku langsung member kabar kepada Ayah Ibuku bahwa bulan depan Orang Tua Rudi akan datang melamarku.

Saat yang dijanjikan tiba, Orang tua Rudi dating ke rumah meminangku. Saat itu pula para orang tua menentukan tanggal pernikahan kami berdua. Karena aku dari Jawa dan Rudi dari Sumatera maka pihak perempuanlah yang akan menyelenggarakan resepsi pernikahan. Keluarga Rudi hanya mengikuti untuk adat budaya akad nikah dan resepsi.

Tentu saja, keputusan ini membuat sibuk seluruh keluarga. Kami harus mencari gedung, catering, WO pernikahan hingga pemilihan baju akad dan baju untuk resepsi, serta seluruh kerepotannya.

Rudi kerap terlihat gugup, dan mencari-cari alas an untuk mengundur tanggal pernikahan, namun aku tetap berkeras untuk menikah dengan tanggal yang telah ditentukan oleh orang tua. Aku berpikir, Rudi sedang bingung dan khawatir menghadapi hari pernikahan. Wajar saja kan jika calon pengantin gugup dan khawatirkan. Akhirnya Rudi hanya diam  dan menurut seluruh ucapanku. Bahkan pemilihan baju untuk akad nikah pun Rudi tak tertarik memilih warna. Dia berucap “terserah kamu sajalah, mau putih, biru atau hitam”. Akhirnya aku memilih warna broken white untuk akad nikah dan model dodotan hijau untuk resepsi.

Desain undangan pun, Rudi tak berminat urunrembug. Rudi menyerahkan semua kepada keputusanku. Warna biru muda ku pilih untuk undangan pernikahan kami.

Dua minggu sebelum tanggal pernikahan, undangan sudah mulai dikirim ke saudara dan teman-teman. Tiba-tiba suatu siang ada seorang perempuan dating ke kantorku membawa seorang bocah laki-laki kecil sekitar 3 tahun. Anak tersebut Nampak sakit flu sehingga agak rewel menangis terus menerus di ruang tunggu kantor.

Segeraku temui tamu tersebut, dan menanyakan keinginannya untuk menemuiku. Perempuan cantik tersebut mengulurkan tangan dan menyebut “Citra, dan ini Rama anak saya”. Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya.

Citra mengeluarkan sebuah amplop, yang sekilas mirip undangan pernikahanku. Ternyata benar, itu adalah undanganpernikahanku.  Citra berkata dengan pelan “Mira, saya adalah istri Rudi Prahesa, dan ini adalah anak Rudi Prahesa”.  Bagai tersambar petir aku tak percaya dengan ucapannya. “kok bisa… kok bisa..Rudi kan belum pernha menikah. Kamu jangan ngaku-ngakuya”. Jawabku tergagap tak percaya sedikitpun atas ucapan Citra.

Rama, mulai menagis lagi dan Citra nampak repot membujuk Rama agar tenang. “Rama demam sudah dua hari, terpaksa aku bawa kemari karena tak ada yang menjaganya dirumah”, keluhnya.

Aku menjulurkan tangan memegang tubuh Rama yang sedang menangis, terasa panas tanganku. Rama memang sedang sakit Panas. Aku makin gugup dan panic menghadapi ini semua. Aku hanya diam tak bias berkata-kata.

Citra meneruskan “Mira, ini bukan salah kamu. Aku dengan Rudi sebenarnya belum menikah resmi tapi kami pacaran terlalu jauh sehingga aku hamil dan membuahkan Rama, Rudi berjanji akan menikahiku dengan resmi setelah mendapat restudari orang tuanya. Tapi hingga Rama umur 3 tahun, Rudi belum juga mengenalkan orang tuanya kepadaku. Walau begitu Rudi member nafkah yang cukup untuk Rama dan mengontrakkan rumah kecil untuk kami berdua, seminggu dua atau tiga kali Rudi menyambangi kami”.

“Kamu tentu tak percaya semua cerita ini, tapi aku harus memperjuangkan Rudi untuk Rama, kami berdua membutuhkan Rudi sebagai Suami dan Ayah. Aku mendapat surat undangan ini dari sahabat Rudi yang bernama Teguh. Berhari-hari aku mencari alamat kantormu karena aku tak ingin dating ke alamat rumahmu yang tertera di undangan”.

“Tolonglah kami Mira, jangan nikahi Rudi karena kami akan dicampakkan, dibuang”, Citra mulai tersedu sedan. Kemudian Citra mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan foto-foto kegiatan Rudi dengan Rama. Disitu jelas terpampang wajah Rudi calon suamiku.

Nyaris pingsan aku mendengar berita ini, aku ikut tersedu sedan. Di ruang rapat itu kami nangis bertiga. Aku tak tahu bagaimana menyelesaikan masalah sebesar ini. Aku minta ijin untuk pulang kerja lebih cepat ke Manajer dengan alas an kurang sehat.

Di rumah, aku langsung menubruk Ibu dan menangis meraung-raung menceritakan nasib burukku. Ibu menelpon Bapak dan kami bertiga mencari jalan keluar untuk masalah ini. Akhirnya Bapak menelpon Citra dan menyuruhnya dating ke rumah karena Bapak dan Ibu ingin mendengar sendiri dari Citra.

Menumpang Taksi, Citra membawa Rama ke rumahku, Citra menceritakan secara detail dan membawa surat kontrak rumahnya yang ditandatangani oleh Rudi. Citra juga menunjukkan foto-foto Rudi bersama Citra dan Rama. Cita menangis keras tertelungkup di sofa dan Rama  ikut menangis sambil memeluk kaki ibunya, sambil teriak-teriak “Mama, mama jangan nangis mama”.  Ya Tuhan.. Pemandangan ini sangat mengharukan hati kami.  Di saat itulah aku mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan. Kami memutuskan akan mendatangi keluarga Rudi bersama Citra.

Nampak Rudi membuka pintu rumahnya, tak lama kemudian, Papa Mama Rudi menyambut kami diruang tamu. Mereka pikirm ini hanya kunjungan calon besan untuk diskusi rencana pernikahan yang kurang beberapa hari lagi.

Kemudian Bapak bicara perlahan, menjelaskan bahwa aku berniat membatalkan pernikahan karena ada seorang perempuan datang ke rumah yang mengaku istri Rudi dengan anaknya. Rudi menampik tudingan itu, Rudi marah dan menudingku memfitnahnya. Saat kami sedang berdebat keras, masuklah Citra membawa Rama dan Rama langsung berlari ke arah Rudi sambil tertawa “papa papapapa…”. Kami berdiri dan pulang , Citra masih bersama keluarga Rudi.

Ini adalah kisah nyata yang pernah aku alami beberapa tahun lalu, kini aku sudah menikah dengan laki-laki yang penuh tanggung jawab dan mencintaiku lahir dan batin. (Mira – Tangerang).

FOLLOW US ON:
Sempat Ditalak Ahmad
Cara Menghilangkan K

puriilingling@gmail.com

Rate This Article:
NO COMMENTS

LEAVE A COMMENT

})(jQuery)